Untitled #5

Adapun kota tempat peristiwa ini berlangsung, kiranya patut saya gambarkan terlebih dahulu agar pembaca memperoleh bayangan yang lebih utuh. Pada siang hingga sore harinya, kota tersebut tampak hidup nan futuristik, dengan langit yang seakan-akan menjadi kanopi suatu peradaban yang telah jauh melampaui zamannya. Orang-orang berlalu-lalang dalam jumlah yang tak terhitung, akan tetapi—dan inilah yang sejak semula terasa ganjil bagiku—mereka semua berjalan dengan tergesa-gesa, seolah-olah ada sesuatu yang tengah mengejar punggung mereka, atau sesuatu yang harus dikejar lebih dulu sebelum waktunya habis. Kemudian, tatkala malam menjelang, segala hiruk-pikuk itu serta-merta lenyap. Yang tersisa hanyalah jalan-jalan kosong yang dijaga oleh polisi-polisi bersama anjing-anjingnya, yang berkeliling dengan langkah berat di bawah lampu-lampu jalan.

Demikianlah memang konsekuensi dari kebijakan jam malam yang berlaku di kota ini—suatu kebijakan yang, harus saya akui, sungguh ketat bukan kepalang. Pada pukul delapan tepat, setiap insan diharuskan telah berada di dalam kediamannya masing-masing. Barangsiapa kedapatan masih berkeliaran di luar tanpa keperluan resmi, niscaya akan diseret ke dalam tahanan. Hanya pekerja-pekerja yang membawa izin khusus dan sertifikasi resmi yang masih diperkenankan keluar, itu pun dengan keterbatasan yang demikian rupa.

Saya sendiri pada waktu itu bertugas sebagai polisi pemula di kota tersebut. Senior saya menugaskan saya untuk mengelilingi suatu kawasan gang, kalau-kalau masih terdapat orang yang berkeliaran di sana. Gang itu boleh dikatakan kosong: di kanan dan kirinya berdiri dinding-dinding pendek, dan di balik dinding tersebut terhampar rumah-rumah sipil serta tiang-tiang listrik yang berdiri sendirian. Singkat kata, gang ini lebih menyerupai jalan pintas yang dipakai pejalan kaki untuk berpindah dari muka ke belakang dengan cepat. Akan tetapi, di salah satu sudutnya berdiri pula sebuah mesin penjual yang isinya bukanlah makanan atau minuman, melainkan boneka-boneka yang hanya dapat dijangkau dengan bantuan sebuah cakar mekanis—suatu permainan yang lazim dijumpai di tempat-tempat hiburan umum, namun terasa janggal di dalam suasana gang yang demikian sunyi.

Dari kejauhan, sembari melangkah mendekat, saya menangkap suatu siluet yang berdiri tegak di hadapan mesin tersebut. Mulanya kuduga ia adalah seorang sipil yang melanggar aturan jam malam, dan saya pun bersiap untuk menghampirinya guna mempertanyakan keberadaannya pada jam yang tak semestinya itu. Akan tetapi, tatkala saya telah cukup dekat untuk mengenali wujudnya, sungguh terkejutlah aku. Di hadapanku berdiri seorang gadis kecil berambut putih, mengenakan jubah hijau yang bentuknya menyerupai pakaian operasi medis, dengan sepasang mata yang menatap kosong ke arah cahaya mesin penjual itu—suatu cahaya yang menerangi tumpukan boneka di balik kaca, boneka-boneka yang demikian senyap, seakan tak pernah benar-benar hidup.

Saya pun bertanya kepadanya, dengan nada yang sedapat-dapatnya kulembutkan, mengapa ia berada di tempat itu pada jam yang demikian larut. Akan tetapi, ia sama sekali tak menyahut. Tatapannya tetap melekat pada boneka-boneka yang tertahan di balik kaca, tak tergoyahkan oleh kehadiranku. Demikianlah keadaannya, dan demikianlah pula dilemaku: meskipun perintah yang kuemban sudah terang-benderang—untuk menangkap siapa pun yang melanggar aturan jam malam—aku merasa amat enggan memaksa seorang bocah seperti ini ke markas dengan tangan yang kasar. Maka kuputuskanlah untuk memenuhi terlebih dahulu, sebisa mungkin, apa yang tampaknya menjadi keinginannya. Dan keinginan itu, kuduga, ialah sebuah boneka.

Saya tanyakan sekali lagi kepadanya, untuk meyakinkan diri, apakah boneka itulah yang ia kehendaki. Si gadis kecil tetap diam sebagaimana adanya, akan tetapi kali ini tatapannya berpindah—dari boneka di balik kaca, kini menatap lekat ke arahku, seakan-akan ia menganggap bahwa akulah yang mampu menghadirkan apa yang sedang ia inginkan. Maka kukeluarkanlah sekeping koin, lalu sekeping lagi, demikian seterusnya. Beberapa kegagalan terjadi berturut-turut, sebab harus kuakui bahwa saya bukanlah orang yang mahir memainkan permainan cakar semacam itu. Sementara saya bergulat dengan tuas dan tombol, si gadis hanya menyaksikan saya bermain, tanpa sepatah kata pun. Hingga pada koin yang kesekian—koin yang nyaris menghabisi seluruh isi sakuku—berhasilah aku menjepit seekor boneka beruang coklat yang bentuknya kurus dan agak ringkih. Boneka itu kuserahkan kepadanya. Ia menyambutnya dengan kedua tangan, mendekapnya sejenak ke dadanya, lalu kembali mengarahkan tatapannya kepadaku—kali ini sambil memegang boneka itu dengan satu tangan saja.

Akhirnya kuajukanlah pertanyaan terakhirku: apakah ia bersedia ikut bersamaku ke kantor. Si gadis tetap tak menjawab. Hanya tatapannya yang lekat itu yang masih menempel padaku, suatu tatapan yang—setelah kupikirkan lagi—lebih menyerupai pemusatan perhatian ketimbang penolakan. Maka, atas dasar suatu firasat yang sukar kunamai, kucoba bergerak satu-dua langkah menjauh. Dan benar saja: ia bergerak pula, mengikuti langkahku, dengan boneka itu masih tergenggam di tangannya yang sebelah. Demikianlah kami berjalan beriringan keluar dari gang, di bawah cahaya lampu-lampu jalan yang tak peduli, menuju suatu tempat yang—pada saat itu—belum jelas pula bagiku apakah ia disebut markas, atau sesuatu yang lain.
Anggi Pratama
Anggi Pratama

Penulis blog Spare.