Untitled #1

Pada suatu petang yang sukar saya ingat dengan seksama, saya mendapati diri tengah berdiri di muka rumah, hendak melemparkan selembar tisu bekas ke jalanan di hadapan kediaman. Sungguh suatu perbuatan yang remeh nan tak patut dipikirkan dua kali—demikianlah anggapan saya kala itu. Akan tetapi, takdir rupanya berkehendak lain. Seorang lelaki yang lebih tua daripada saya—seorang abang, sebagaimana kami biasa menyebutnya—dengan serta-merta menegur saya dengan nada yang sarat teguran. Tergerak oleh rasa malu yang sekonyong-konyong menjalar di dada, kuambillah sebuah botol plastik yang tergeletak tak bertuan di dekatku, lalu kuhantarkan ia ke dalam tong sampah, seolah-olah dengan tindakan kecil tersebut dosaku akan tertebus seketika.

Setelah peristiwa sepele itu berlalu, langkah saya kemudian membawa diri menuju alun-alun kota—entah dengan tujuan apa, kiranya benak saya sendiri pun tak hendak menjelaskannya. Namun belum lama saya tiba di sana, tatkala langit yang semula damai tiba-tiba dirobek oleh raungan sebuah pesawat jet. Suatu serangan udara, demikian rupanya, tengah dilancarkan ke salah satu sudut alun-alun tersebut. Saya sendiri berdiri di dalam sebuah gedung, mematung bersama beberapa insan lain yang sama-sama menyaksikan kejadian itu dengan mata terbelalak.

Naluri pertama yang menggelitikku, sudah barang tentu, ialah hasrat untuk melarikan diri secepatnya. Namun, saya urungkan niat tersebut demi suatu pertimbangan yang—harus saya akui—jauh lebih duniawi sifatnya: saya angkat telepon genggam untuk merekam peristiwa itu. Sebab, demikianlah pikir saya, belaka tutur cerita di lini masa Facebook tanpa adanya bukti visual hanya akan dipandang sebelah mata oleh khalayak. Maka kuabadikanlah momen tatkala peluru kendali dari pesawat Amerika Serikat itu ditembakkan—suatu pemandangan yang, dalam keadaan terjaga, tentu akan saya anggap mustahil belaka.

Adapun di dalam gedung yang sama, saya dapati pula sekelompok prajurit TNI yang turut menjadi saksi peristiwa tersebut. Hanya saja, sikap mereka sungguh ganjil bagiku: mereka melantunkan semacam sorak-sorai yang tak begitu jelas maknanya, suatu nyanyian yang—tanpa kuhendaki sedikit pun—turut terekam dalam video saya. Dan tatkala serangan itu telah hampir mencapai pengujungnya, para prajurit tersebut berkumpul, lalu dengan terang-terangan menyatakan kegembiraan mereka atas serangan yang baru saja berlangsung.

Demikianlah mimpi itu berakhir, meninggalkan pada diriku suatu kebingungan yang masih terus berlanjut bahkan hingga aku terjaga dari tidur.
Anggi Pratama
Anggi Pratama

Penulis blog Spare.