Untitled #2

Pada awal mulanya, saya tengah bersiap untuk merebahkan diri bersama kekasih hati. Akan tetapi, sebelum mata kami sempat terpejam, saya kemukakanlah suatu niat yang—rupanya—tidak terlalu berkenan di hatinya: hasrat untuk berpindah tempat tinggal. Kekasihku itu pun seketika merajuk, dengan rasa kesal yang tak hendak ia sembunyikan. Maka, demi meredakan kekisruhan kecil itu, saya tawarkanlah jalan keluar yang—harus saya akui—sedikit di luar dugaan: jika berpindah tempat tinggal merupakan masalah, mengapa pula tidak sekalian saja kita tinggal bersama, dan engkau menjadi istriku? Demikianlah, dengan suatu cara yang barangkali hanya mungkin terjadi dalam alam mimpi, lamaran tersebut diterimanya tanpa banyak perdebatan.

Pada suatu hari, datanglah kesempatan menghadiri sebuah festival kota. Di sanalah benakku tergerak oleh suatu gagasan yang—kala itu kuanggap brilian—yakni menghasilkan bahan bakar minyak dari tempe. Istriku, yang sedari awal memang berbakat dalam urusan ketukangan, segera merakit perangkat yang diperlukan. Mulanya ia mempersiapkan suatu versi mungil, sekadar sebagai alat peraga untuk dipamerkan. Namun saya tak dapat menahan diri untuk berkomentar: mengapa pula alat pres tersebut tidak sekaligus dipadukan dengan distilasi, agar lemak-lemak yang tak diinginkan dapat tersaring dengan baik? Ia menjawab, dengan nada yang menenangkan, bahwa hal itu akan diperbaiki kelak.

Tatkala hari festival pun tiba, saya dibuat tercengang oleh apa yang terhampar di hadapan mata. Entah dengan cara apa dan kapan ia mengerjakannya, istriku rupanya telah merakit perangkatnya hingga seukuran raksasa, dan—lebih dari itu—menjadikannya sebagai bahan pertunjukan utama. Khalayak yang hadir mulanya tampak tertarik, namun semuanya kemudian hanya membisu. Tergerak oleh kekhawatiran yang tak dapat kuredam, kutarik istriku ke belakang panggung, lalu kuberitahu bahwa konsep bahan bakar tersebut masihlah ganjil nan kotor sifatnya, dan adapun penyaringnya sungguh-sungguh harus segera dibuatkan.

Akan tetapi, sebelum percakapan itu sempat menemukan kesimpulannya, adegan di alam mimpi ini berganti dengan sekonyong-konyong. Hari telah berubah menjadi malam, dan di sebuah rumah yang terbuka tengah berlangsung pesta lanjutan setelah festival usai. Istriku berkeliling bersama sanak-keluarganya, hilir-mudik mencari hidangan dan kegembiraan. Sementara itu, saya sendiri menyimpan suatu maksud—yang sayangnya, kini tak dapat lagi kuingat dengan jelas—suatu maksud yang sedemikian rupa kuatnya hingga membuat istriku berpesan: "Jangan engkau lakukan seorang diri."

Setelah perbuatan itu rampung kulakukan—entah apa wujudnya, biarlah ia tinggal sebagai rahasia mimpi—saya menyeberangi jalan menuju halaman rumah perhelatan yang masih ramai oleh pesta. Di sanalah saya berjumpa dengan seorang pedagang yang tengah asyik menatap layar telepon genggamnya, sembari dagangannya tergeletak begitu saja di sebelahnya. Ia menawarkan saya entah barang apa, namun saya tak hendak menanggapi, sebab niat saya semata-mata hanyalah hendak mengabadikan rumah perhelatan itu dalam sebuah foto. Tindakan saya rupanya membuatnya naik pitam dan mulai mengganggu, akan tetapi saya tindas saja perlawanannya, lalu kupaksa ia berdiri di sebelah agar turut masuk dalam bingkai. Hasilnya, harus kuakui, lumayan elok dipandang.

Sebelum benar-benar memasuki rumah perhelatan, perhatianku tertambat pada dua pemandangan yang berlawanan. Di sebelah kanan jalan, cahaya kuning yang terang-benderang memendarkan suasana bagaikan pesta yang tak hendak usai—dan kuabadikan ia dalam sebuah foto. Lalu kupalingkan tubuh ke arah belakang, dan di sanalah kudapati hutan belantara yang kelam-pekat, suatu kontras yang sedemikian tajamnya hingga turut pula kumasukkan ke dalam koleksi gambar.

Akhirnya saya memasuki rumah perhelatan itu kembali. Di dalam, saya membersihkan diri terlebih dahulu, lalu hendak menyantap hidangan yang tersedia. Akan tetapi, satu demi satu, pemandangan-pemandangan yang seram dan ganjil bermunculan di hadapan mata. Saya pun memilih duduk di sofa di sudut ruangan, sekadar mencoba menenangkan diri. Tepat pada saat itulah, kulihat sosok hantu istriku melintas. Namun anehnya, saya menanggapi penampakan tersebut dengan biasa-biasa saja, tanpa secuil pun keterkejutan menjalar di dada. Dan barulah di akhir mimpi itu kupahami sebab musababnya: rupanya, aku pun telah lama menjelma menjadi hantu.
Anggi Pratama
Anggi Pratama

Penulis blog Spare.