Untitled #7

Pada suatu hari yang sukar saya tetapkan musimnya, saya berangkat bersama tiga orang kawan menuju suatu tempat yang—sungguh aneh untuk diakui—tak begitu jelas pula bagi kami sendiri apa nama tempat itu. Adapun tujuan dari perjalanan kami, sekiranya boleh diringkas dengan satu kalimat, ialah hendak memperoleh suatu barang bagus yang konon tersimpan di dalam hutan. Apa benda itu sesungguhnya, dan mengapa ia menjadi demikian berharga di mata kami berempat, hingga kini pun aku tak dapat menjawabnya secara terperinci. Akan tetapi, demikianlah lazimnya logika mimpi: tujuan tidak selalu perlu dimengerti, asalkan langkah dapat terus dijalani.

Kami berempat tiba di sebuah pertigaan jalan tanah, lalu turunlah kami dari jeep yang sejak tadi mengantarkan rombongan. Dari pertigaan itu, kami memilih jalur yang membawa kami masuk ke dalam hutan. Belum jauh kami melangkah, sampailah kami pada suatu desa kecil yang—uniknya—tak berpenghuni satu jiwa pun. Akan tetapi, perlu pula kucatat bahwa desa itu sama sekali tidak terkesan terbengkalai. Bangunan-bangunannya masih kokoh, kayunya solid, dan pintu-pintunya masih dapat dikunci dari dalam. Saya menduga, kala itu, bahwa desa tersebut sesungguhnya bukanlah pemukiman tetap, melainkan suatu kumpulan gubuk peristirahatan yang dibangun oleh para pemburu atau petani untuk keperluan sementara. Letaknya tersusun rapi menyerupai desa sungguhan, hanya saja jalan-jalannya masih berupa tanah, dengan beberapa lubang yang telah dipenuhi air genangan.

Kami melalui desa kecil itu dengan tergesa-gesa, sebab matahari telah condong, dan tujuan kami masih jauh di depan. Akhirnya, sampailah kami di jantung hutan, dan di sanalah kami memetik beberapa kelompok jamur yang—sebagaimana lazimnya barang yang dicari di tempat yang jauh—rupanya itulah barang bagus yang sejak semula menjadi tujuan perjalanan kami. Setelah keranjang-keranjang kami terisi cukup, kami pun berbalik arah, menapaki kembali jalur yang sama. Tatkala kami melewati desa kosong itu untuk kedua kalinya, langit telah berubah menjadi maghrib—suatu pertukaran cahaya yang, harus aku akui, memberi kesan kepada desa itu sebuah aura yang berbeda dari sebelumnya. Bangunan-bangunan yang tadinya sekadar sunyi, kini terasa seperti diam yang menyimpan sesuatu.

Kami terus melangkah keluar dari hutan, dan tatkala kami akhirnya tiba di pinggirannya, malam telah jatuh sepenuhnya. Kami sempat menempuh beberapa kilometer dengan jeep, sebelum kemudian—di tepi jalan—kami menjumpai sebuah pemandangan yang sungguh tak kami sangka. Sebuah rumah duka berdiri di sana, dengan banyak orang yang tengah berdoa dan berkabung di pelataran, sementara asap dari kertas-kertas yang dibakar membumbung pelan ke arah langit. Model rumah duka itu, sebagaimana dapat dengan mudah kukenali dari ornamennya, adalah model rumah duka Tionghoa—tempat di mana doa-doa untuk arwah dipanjatkan, dan kertas-kertas persembahan dikirimkan ke alam baka melalui api yang dibakar dengan ritual yang khidmat.

Akan tetapi, di sinilah mimpi mengambil belokan yang paling tak terduga. Seorang di antara kami—aku sudah lupa siapa persisnya—dengan tiba-tiba mengajukan suatu gagasan yang, dalam keadaan terjaga, niscaya akan kami tampik dengan segera: hendaklah rumah duka itu kami rampok, dan setelah itu kami bakar. Yang lebih ganjil lagi—dan inilah bagian yang hingga kini masih kupikirkan—gagasan itu tidak satu pun di antara kami tolak. Bahkan tanpa banyak pertimbangan, kami berempat segera bersepakat dan menjalankannya.

Ketiga kawanku segera membuat kerusuhan di pelataran rumah duka, mengalihkan perhatian para pelayat dan keluarga yang berduka. Sementara itu, saya sendiri menyelinap ke dalam, mencari-cari barang-barang berharga yang sekiranya dapat kami bawa pergi. Setelah barang-barang itu terkumpul, kami pun berlari menuju jeep yang—dengan sigap telah kami pasangi gerobak di belakangnya—menanti kami di tepi jalan. Lalu, setelah api telah berkobar dari sudut rumah duka itu, kami tancap gas dengan tergesa-gesa, sebagaimana orang yang tengah dikejar oleh sesuatu yang tak dapat dijelaskan.

Eureka Namirrha
Eureka Namirrha

Penulis blog Spare.