Pada awal mulanya, terjadi suatu perselisihan yang hebat di dalam lingkungan keluargaku. Adapun pokok permasalahannya, sungguh aku tak lagi dapat mengingatnya dengan terperinci—mimpi rupanya berkenan menyembunyikan sebab-musababnya, dan hanya menyisakan akibatnya. Yang pasti, akibat dari konflik tersebut sungguh tidak ringan: aku memutuskan untuk minggat dari tanah airku sendiri, meninggalkan Indonesia, dan menyeberang jauh ke Amerika Serikat—seakan-akan jarak ribuan mil itu adalah satu-satunya obat yang sanggup meredakan luka di dalam dada.
Sesampainya saya di negeri asing tersebut, hari demi hari saya jalani dengan cara yang—harus saya akui dengan kepala tertunduk—tidaklah patut diteladani. Sebagian besar waktu saya habiskan untuk menghamburkan uang demi hal-hal yang tak berfaedah, sebagaimana lazimnya seseorang yang sedang melarikan diri dari dirinya sendiri. Hingga pada suatu titik, saya mendapati diri terdampar di sebuah pom bensin, dengan sisa uang yang tinggal sepuluh dollar saja di dalam saku. Cuaca pada saat itu panasnya bukan kepalang, seolah-olah matahari sengaja diturunkan beberapa hasta agar lebih dekat kepada bumi semata-mata untuk menyiksaku seorang. Sebaiknya aku pulang saja, demikianlah bisikan yang mulai mengetuk-ngetuk di dalam benakku kala itu.
Tatkala saya tengah tenggelam dalam pikiran yang murung itu, sebuah mobil van melintas, lalu memarkir dirinya di pinggiran pom bensin. Dengan agak teatrikal—sebagaimana lazimnya pertunjukan kecil yang sengaja diatur untuk menarik perhatian—jendela kanan dan kirinya dibuka serentak, menampakkan sebuah kuali besar yang tengah mendidih dengan minyak panas, di dalamnya terendam beberapa potong daging ayam berukuran besar. Seketika juga, aroma bumbu yang pedas-asin menyergap penciumanku, suatu aroma yang—dalam keadaan lapar dan kepayahan seperti itu—terasa nyaris menjadi pukulan. Sejenak saya layangkan pandangan ke arah logo yang terpampang di sisi van, suatu logo yang sekaligus merupakan merek dari dagangan tersebut. Nama merek itu—yang biarlah kusamarkan sebagai ***—kuketik segera ke dalam mesin pencari di telepon genggamku.
Dari hasil pencarian tersebut, saya peroleh keterangan yang cukup menarik: van itu rupanya hanya satu-satunya yang ada di seluruh negeri, dan dagangan ayam goreng bermerek *** itu dimiliki oleh seseorang yang—biarlah pula kusamarkan namanya sebagai Tuan ////—yakni seorang youtuber makanan yang pada saat itu tengah menjalankan suatu tantangan keliling Amerika Serikat dengan menjajakan ayam gorengnya. Kubaca pula bahwa ia telah meraup jutaan dollar dari tur tersebut, dan namanya begitu termasyhur di kalangan generasi muda.
Sekonyong-konyong, terbersit di benakku suatu hasrat untuk menjadi seperti orang ini—mengumpulkan pundi-pundi yang cukup, agar dengan demikian aku dapat segera kembali ke rumah, kembali ke Indonesia, kembali kepada kehidupan yang sempat kutinggalkan. Akan tetapi, dengan cepat pula akal sehatku menampar harapan itu. Mustahil aku menjadi seperti Tuan ////; wajar saja dagangannya laris-manis, sebab ia adalah selebriti dunia maya dengan pengikut jutaan jiwa, dan namanya telah lama dikenal khalayak. Belum lagi dari aromanya, ayam goreng itu rasanya tentulah luar biasa lezat. Sedangkan aku? Aku hanyalah seorang hedonis yang tak dikenal, tak termasyhur, yang lingkup pergaulannya bahkan tak melampaui kerabat ayah dan ibu sendiri.
Maka, di tengah keputusasaan yang demikian rupa, hinggaplah sebuah pikiran jahat di kepalaku—pikiran yang, dalam keadaan terjaga, tentu akan kuusir sejauh-jauhnya, namun dalam keadaan mimpi justru kuamini dengan begitu mudahnya. Aku akan merampas mobil van itu, mengambil uangnya, lalu pulang. Demikianlah rencanaku, dan demikianlah pula segera kueksekusi. Kupakai sisa sepuluh dollarku untuk berpura-pura menjadi seorang pelanggan biasa, sambil mengulurkan tangan untuk memesan ayam. Setelah itu, dengan gerakan yang sengaja kupilih agar tampak lugu, saya menyelinap masuk ke kursi setir, lalu menancap gas. Tak peduli bahwa Tuan //// itu masih sibuk menggoreng dan dirinya tercipratkan minyak panas akibat hentakan van yang mendadak—yang penting bagiku saat itu hanyalah membawa kendaraan ini ke tempat yang sepi, untuk kemudian merampoknya tanpa saksi.
Akan tetapi, takdir di alam mimpi rupanya tidak bersedia memberiku kesempatan yang lapang. Belum genap sepuluh menit aku memacu van itu, sekonyong-konyong dua mobil polisi telah mengapit kiri-kananku. Tak hendak aku berurusan dengan aparat negara di tanah orang, kubanting setir ke arah suatu kawasan yang ramai dengan pejalan kaki—suatu keputusan yang segera berbuah pahit, sebab semakin banyak mobil polisi yang bergabung dalam pengejaran tersebut. Pada akhirnya, van itu kuhantamkan ke tumpukan kardus di tepi jalan, dan dengan sigap aku melompat keluar untuk bersembunyi di balik tumpukan tersebut, sementara para polisi memeriksa kendaraan Tuan //// yang telah teronggok-tak-berdaya.
Setelah kurasa keadaan cukup aman, aku pun keluar dari persembunyian dan berjalan dengan langkah yang sengaja dibuat santai, seolah-olah aku hanyalah pejalan kaki biasa yang kebetulan melintas. Namun, sebagaimana lazimnya mimpi yang tak hendak memberi penutup yang nyaman bagi pemimpinya, salah seorang polisi rupanya mengenali wajahku sebagai wajah pelaku pencurian mobil tadi. Maka dimulailah pengejaran babak kedua, dan demikianlah mimpi itu menggantung—aku berlari, mereka mengejar, dan tak satu pun di antara kami tahu di titik mana hal itu akan berakhir