Untitled #3

Selepas pulang dari pekerjaan, kolega-kolega saya tiba-tiba dilanda hasrat untuk membeli kembang api. Sesungguhnya kembang api berukuran kecil telah pula tersedia di hadapan kami, akan tetapi rupanya mereka tidak hendak puas dengan yang serupa itu—mereka menghendaki kembang api yang besar, malahan yang amat-sangat besar. Pada titik inilah alam mimpi saya memberlakukan suatu putaran yang ganjil: dunia di sekeliling kami sekonyong-konyong berubah menjadi suatu lanskap yang bercorak cyberpunk, lengkap dengan segala kemegahannya yang kelam.

Adapun untuk memperoleh kembang api ultra-raksasa yang tersimpan di dalam sebuah toko, kami harus menempuh tata cara yang tak kalah ganjilnya: salah seorang dari kami diharuskan duduk di atas suatu timbangan, dan selama berada di sana ia tak diperkenankan bergerak sedikit pun. Tatkala syarat itu dipenuhi, sudah barang tentu seorang penjaga toko bertubuh kekar akan datang menghampiri untuk menguji niat kami. Maka, salah satu kolega saya—yang kebetulan memiliki perawakan besar nan piawai dalam ilmu beladiri—dengan suka rela maju ke depan untuk meladeni si penjaga.

Sementara seluruh peristiwa itu berlangsung—mulai dari proses duduk di atas timbangan hingga pertarungan yang dilakoni rekan saya—saya sendiri hanya mengamati dari sudut ruangan. Demikianlah memang kebiasaan saya: ikut hadir, namun tidak benar-benar terlibat; sekadar mengikuti rombongan, sebagaimana lazimnya orang yang tak terlalu hendak ambil pusing. Akan tetapi, di tengah keramaian itu, suatu firasat tak enak perlahan-lahan merayap masuk ke dalam dadaku. Tanpa banyak bicara kepada para kolega, saya pun bangkit dari tempat duduk, lalu berjalan pulang seorang diri menuju mes.

Esok paginya, ketika saya kembali ke tempat kerja dengan hati yang sesungguhnya telah lebih lega, saya disambut oleh suatu hal yang sungguh tak terduga: sepucuk surat peringatan resmi telah menanti di atas meja saya. Demikianlah mimpi itu berakhir—dengan suatu ironi yang, bahkan setelah saya terjaga, masih membuatku bertanya-tanya: apakah firasatku itu sebuah peringatan dari dalam, ataukah justru ia adalah sebab musabab dari segala perkara?
Anggi Pratama
Anggi Pratama

Penulis blog Spare.