Pada suatu petang yang sukar saya jelaskan kapan persisnya, saya tengah mengemudikan sebuah jeep tanpa atap, seorang diri, menelusuri suatu hutan yang luasnya seakan tak berkesudahan. Topografi hutan itu—sejauh dapat saya bandingkan—agak menyerupai hutan Sequoia di Amerika, dengan pepohonan yang menjulang demikian tingginya hingga seolah-olah hendak menggapai langit itu sendiri. Adapun langit petang yang menaungi perjalanan saya itu memiliki gradasi awan yang sungguh ganjil: ia bagaikan sapuan-sapuan cat yang saling bertabrakan, membentuk lapisan-lapisan warna merah, jingga, dan kuning yang bertumpuk-tumpuk—suatu pemandangan yang, bahkan dalam batas-batas alam mimpi, masih kuanggap aneh sekaligus indah luar biasa.
Tatkala saya tengah asyik menikmati perjalanan itu, kendaraan saya tiba-tiba mogok tepat di tepian hutan, di hadapan suatu persimpangan jalan. Ke arah kanan, jelas terhampar sebuah kota—namun entah mengapa, kota itu memberiku perasaan yang agak janggal, sesuatu yang tak dapat sepenuhnya kujelaskan. Sedangkan ke arah kiri, terlihat suatu lokasi konstruksi tua yang rupanya masih beroperasi, hanya saja kini dalam keadaan semi-otomatis. Maka, dengan pertimbangan bahwa di sana barangkali masih dapat saya temui seorang petugas pemeliharaan yang mungkin bersedia meminjamkan peralatan untuk memperbaiki jeep, saya pun memilih jalan ke kiri.
Beberapa langkah masuk, saya menyadari bahwa jalur tersebut justru kembali masuk ke dalam hutan—suatu hutan yang saat itu telah mulai diliputi malam, namun anehnya telah pula dilengkapi penerangan. Mesin-mesin derek di sana tak henti-hentinya bergerak, mengangkat dan menurunkan beban entah untuk keperluan apa. Akan tetapi—dan inilah yang membuatku heran—tak seorang pun petugas pemeliharaan kudapati di sana. Hanya mesin-mesin yang bekerja, sendirian, dalam suatu kesepian yang patuh nan tak terbantahkan.
Saya terus melangkah maju, dan tanpa sempat kusadari, saya rupanya telah tembus ke sebuah jalanan acak di tengah kota. Saya periksa jam tangan: telah pukul dua belas malam. Akan tetapi, kota itu sungguh sepi—suatu perumahan urban yang memancarkan perpaduan warna kuning-putih dari lampu-lampu jalan, ditingkahi oleh cahaya keemasan terang yang berasal dari bintang-bintang di angkasa. Di hadapan saya kembali terhampar dua pilihan jalan: ke kiri menuju kawasan perumahan biasa, dan ke kanan menuju sebuah lapangan kosong yang luas membentang.
Saya pun memilih untuk berjalan menyusuri tepian lapangan kosong itu, sembari menengadah memandang bintang-bintang dan Bima Sakti yang tampak demikian jelas di langit malam. Akan tetapi, di seluruh sisi yang sejak tadi kulalui, hanya ada saya sendiri. Tak seorang insan pun. Adapun suara yang masih sempat menemaniku—selain bunyi langkah saya sendiri—hanyalah dua hal: deru mesin-mesin derek yang masih bekerja di kejauhan, dan suara samar seorang penyiar radio yang berasal dari mobil jeep yang telah saya tinggalkan jauh di belakang sana.